Verbatim
Terik siang itu ditutup oleh rimbunnya pohon dan atap teater lab kami yang menjulang. Aku yang duduk di baris tengah hanya memandanng dedaunan meranggas di kampus kami yang kemarau, jatuh tertiup angin yang kemudian berputar-putar bak taifun di tengah taman kampus. Aku disini dengan seratus anak lainnya hanya terdiam, menunggu acara perkenalan kampus kami dimulai. Ada yang tidur mendengkur, ada yang catat hal-hal omong kosong dari para senior, sampai memberi pesan singkat pada orang tua yang terus bertanya apakah acaranya telah selesai.
Pukul 2 siang, para rombongan datang. Rombongan itu berisi 5 orang laki-laki yang berbaris rapi, dengan berpakaian sangat parlente : kemeja wool putih dengan dasi warna-warni beserta clipper, berjas putih yang amat putih dan bersih, yang kurasa takada noda sedikitpun, bercelana hitam dan coklat yang rapih dan tampak disetrika dengan teliti, jatuh telat di ujung lidah sepatu mereka yang berwarna hitam dan mengkilat.
Mereka masuk pintu depan dan menaiki podium. Seketika, suasana bertambah hening.
Seseorang ditengah, nampak berumur 60an, dengan rambutnya yang memutih dan agak panjang maju diantara barisan sambil berdehem, lalu berkata:
"Pertama, kami ucapkan selamat kepada anda semuanya yang telah berhasil sampai di tahap ini. Anda mengalahkan ribuan peserta lain yang mungkin lebih rajin, lebih pandai, dan lebih baik dari anda, namun tidak seberuntung anda semuanya".
Semuanya hening.
"Anda boleh tepuk tangan."
Semua lalu bertepuk tangan pelan, menghindari tepukan berisik yang menarik perhatian.
"Hadirin sekalian, saya adalah Profesor Sastroatmodjo, Kepala bagian Ilmu Penyakit Dalam, dan Dekan Fakultas Kedokteran, yang akan mengawasi dan memastikan kalian menjadi insan-insan yang berjiwa kemanusiaan, dan menjadi tenaga kesehatan yang paripurna."
"Disebelah saya ada Prof Andi, beliau kepala bagian Ilmu Fisiologi, lalu ada Prof Sasmito, kepala bagian anatomi..."– Diperkenalkannya para pria dibarisan ini satu persatu, dengan jabatan dan gelar kebesarannya. Disetiap perkenalan, kami bertepuk tangan, yang tentu saja dipelankan.
Setelah perkenalan, pria ditengah lalu turun ke podium, mendekati peserta di baris depan, dan menepuk pundaknya.
"Kenapa kamu mau masuk kedokteran?"
"Karena saya ingin menolong orang, prof. Saya masuk kedokteran atas saran orang tua saya, yang kebetulan sedang sakit jantung"
"Saya doakan kamu sukses kedepannya. Yakin akan tujuan kamu dan bahagiakan kedua orangtuamu"
Prof lalu bertanya pada dua orang lainnya di baris depan. Jawaban mereka hampir sama, tentang pentingnya menolong sesama.
Tiba-tiba prof menunjuk seseorang di baris tengah, dengan posisi dekat jendela.
"Mas, apa tujuanmu masuk kedokteran?"
Ya, prof menunjuk diriku.
"Tujuan saya, prof?" Tanyaku
"Kalau saya..."
Momen ini merupakan 1 menit terlama dalam hidupku. Nampak semua indera ku seakan peka dan terbuka terhadap perubahan di sekitarku. Mata yg tajam menangkap setiap mimik dari para pejabat dan mahasiswa lainnya yang menoleh kearahku, kulitku yang terasa dingin akibat peluh yang terkena angin kipas, kupingku yang seksama mendengarkan sunyi, namun dikejauhan terdengar bunyi ranting dan suara para mahasiswa yang selesai kelas, kakiku yang terasa sempit memenuhi ruang sepatuku, dan degup jantungku yang makin lama semakin cepat, hingga kancing bajuku yang ikut bergetar seiring derapnya.
"Kalau saya, saya menilai menjadi dokter dapat menjadi pekerjaan yang dibutuhkan di masa depan, dan kepastian akan penghasilan saya dibandingkan pekerjaan lain."
Lalu semua senyap. Ada beberapa mahasiswa yang tertawa, ada dekan yang terkekeh, namun pak dekan lantas marah.
"Kamu hanya menilai kuliah kedokteran dari materi saja?" Ujar Prof sambil menarik napas,
"Keluar kamu! Dan renungkan ucapanmu tadi. Ini profesi mulia, muliakan dulu tujuanmu, baru kamu bisa menghadap saya!" Sambil menunjuk pintu keluar, yang telah dibuka oleh petugas ruangan.
Tanpa sepatah kata, aku menuruni tempat duduk, memberi senyum dan permisi kepada para dekan, lalu keluar gedung. Kini aku duduk di anak tangga, sambil melonggarkan dasiku. Merenungkan apa yang baru terjadi, dan berusaha berpikir sekeras mungkin.
- –BERSAMBUNG–

Komentar
Posting Komentar