Kala Kantuk Menyerang

Siapa yang akan menyangkal bahwa tidur jadi kebutuhan primer insan di dunia? Saya rasa tentu saja tidak ada. Semua pasti mengerti bahwa 1/3 waktu harian kita akan berkisar pada kasur dan ranjang, walaupun terkadang terdapat variasi antar setiap individu. Percaya atau tidak, tidur menjadi sebuah hal mutlak yang tidak bisa terelakan dalam kehidupan manusia.

Jika kalian datang untuk berobat ke dokter, salah satu anjuran yang akan muncul dari mulut sahabat kalian ini dapat berupa "istirahat yang cukup ya" atau "jangan sering begadang". Sayangnya, kata kata manis ini hanya berlaku buat pasien, tapi tidak dalam keseharian seorang tenaga kesehatan. Jika kita tinjau persentase tidur berdasarkan tingkat profesi yang tenaga kesehatan jalani, maka akan muncul sebuah korelasi terbalik, semakin muda dokternya maka akan semakin jarang ia terlelap.

Image result for dokter tidur

Kurangnya jam tidur dokter tidaklah berkaitan dengan gaya muda anak jaman now yang penuh dengan gadget dan meme. Tumpukan tugas dan tanggung jawab terhadap pasien jadi etiologi utama seorang dokter dalam masa pendidikan (koas dan residen) melek sepanjang waktu. Jika ditilik lebih jauh, muncul sebuah informasi yang mencengangkan, mereka dapat bekerja hingga 32 jam, beberapa mungkin lebih dari itu.

Kaget? Aneh? Sayangnya, dalam masa pendidikan, begadang hal wajar, walaupun terkadang kita masih dapat melihat seorang dokter yang tertidur di jam kerja. Kondisi ini perlu dimaklumi karena kemungkinan besar ia telah bekerja lebih dari 24 jam non stop. Sebuah kondisi yang sudah pasti akan menjadi pemicu demo masal jika terjadi pada profesi lain.

Kondisi juga diperparah dengan profesi lain yang sepertinya mencari keuntungan di balik tenarnya kedokteran. Masih segar diingatan kita tentang seorang pejabat yang menendang tempat sampah karena melihat dokter jaga istirahat di kamar dokter. Media sosialpun ikut santer memberitakannya dengan segala tuduhan yang memojokan profesi kami. Malas dan tidak bertanggungjawab menjadi sebuah hal yang semakin melekat dengan profesi dokter seiring meluasnya berita ini tersebar.

Konyol memang, mengingat manusia memang butuh tidur. Dokter yang katanya profesi mulia seakan dituntut menjadi robot yang selalu siap sedia melayani tuannya. Standby setiap waktu. Perlu digaris bawahi bahwa dokter juga manusia, butuh istirahat saat kondisi memang memungkinkan. Tujuannya hanya satu, menjaga performa kami tetap prima kala kondisi darurat menyerang.

Ah jika paradigma dokter shift malam tidak boleh tidur terus berlanjut, saya rasa bencana akan segera menghampiri, cepat atau lambat. Apa resikonya? Sebuah penelitian menunjukan bahwa seseorang yang terjaga antara 24-72 akan mengalami penurunan performa kognitif. Tanda tandanya dapat dilihat dari penurunan konsentrasi, kecekatan, juga munculnya tremor dan kemungkinan singkop ditengah jam jaga. Belum lagi resiko serangan jantung, insensitivitas insulin dan resiko kemunculan kanker yang terus mengintai. Dengan segala penurunan performa yang muncul, tentu anda tidak mau kan dokter anda pingsan saat sedang memeriksa....

Di era yang semakin maju ini, sudah saatnya ada regulasi yang mengatur jam kerja seorang dokter. Bukan untuk membuat dokter terlihat santai atau mengganggu kebutuhan pasien, namun untuk menjaga performa dokter tetap pada batas normal, yang pada akhirnya juga akan berdampak pada pasien juga. Bukan lagi jamannya, seorang dokter takut akan paparazi ketika akan beristirahat serta bukan lagi jamannya seorang junior takut akan komentar seniornya ketika akan memejamkan mata. Sudah saatnya para dokter tenang dalam perlindungan hukum.

Akhir kata, tidur adalah hak setiap manusia, terlepas dari apapun profesinya. Dan hak ini wajib terpenuhi tanpa adanya kekhawatiran yang muncul ketika memenuhinya.

Salam
-hampirdokter-

Komentar