2 x Proses, 2 x Nikmatnya, Yakin?
Jas putih dan stetoskop pastilah lekat dengan gaya seorang dokter. Dengan ilmu yang "kata"nya segudang serta dompet yang katanya (lagi) tebalnya seperti beton, profesi ini jadi mimpi sejuta umat. Tak hanya mengobati pasien, "makhluk sempurna" ini seringkali jadi ujung tombak dalam menghadapi berbagai masalah, mulai dari pertikaian rumah tangga hingga kegalauan remaja.
Kalau belum percaya bagaimana "supreme"nya gelar dr. di mata masyarakat, lihat saja ribuan anak muda yang mati matian bermimpi untuk masuk fakultas dengan rating nomer 1 ini. Aduhai, jumlah ini belum ditambah banyaknya retaker yang percaya bahwa ketenaran hanya dapat diraih dengan menyandang gelar ini.
Sayang, terkadang manusia cukup naif dengan mimpinya. Banyak yang tidak paham bahwa "stairway to heaven" fakultas kedokteran bukanlah hal yang mudah dicapai. Kita tidak bicara mengenai harga yang harus dikeluarkan untuk biaya kekeluargaannya, namun waktu dan perjuangan yang harus dipersiapkan untuk menyandang sneli dokter ini.
Kata pepatah, time is money. Waktu yang tidak dapat dibalikkan memiliki harga yang setara dengan tumpukan dollar. Suatu hal yang mungkin akan di"hambur-hamburkan" seorang calon dokter di masa emasnya. Bukan main, seorang calon dokter seringkali menghadapi waktu tempuh pembelajaran yang lebih panjang dari pada mahasiswa normal pada umumnya. Rata rata 2x lipat yang menyebabkan seorang calon dokter putus cinta, ditinggal kawin, atau terlalu sering dihadapkan pada pertanyaan"kapan kawin?".
Kalau belum percaya bagaimana "supreme"nya gelar dr. di mata masyarakat, lihat saja ribuan anak muda yang mati matian bermimpi untuk masuk fakultas dengan rating nomer 1 ini. Aduhai, jumlah ini belum ditambah banyaknya retaker yang percaya bahwa ketenaran hanya dapat diraih dengan menyandang gelar ini.
Sayang, terkadang manusia cukup naif dengan mimpinya. Banyak yang tidak paham bahwa "stairway to heaven" fakultas kedokteran bukanlah hal yang mudah dicapai. Kita tidak bicara mengenai harga yang harus dikeluarkan untuk biaya kekeluargaannya, namun waktu dan perjuangan yang harus dipersiapkan untuk menyandang sneli dokter ini.
Kata pepatah, time is money. Waktu yang tidak dapat dibalikkan memiliki harga yang setara dengan tumpukan dollar. Suatu hal yang mungkin akan di"hambur-hamburkan" seorang calon dokter di masa emasnya. Bukan main, seorang calon dokter seringkali menghadapi waktu tempuh pembelajaran yang lebih panjang dari pada mahasiswa normal pada umumnya. Rata rata 2x lipat yang menyebabkan seorang calon dokter putus cinta, ditinggal kawin, atau terlalu sering dihadapkan pada pertanyaan"kapan kawin?".
Ya begitulah nasib kami para pejuang berjas putih. Masa pembelajaran kami tidak berhenti ketika wisuda dirayakan. 4 tahun masa pembelaran kami di bangku kuliah hanya bagaikan setetes air di samudra, terlalu kecil untuk dilihat mata. Gelar sarjana kedokteran (S.Ked) yang kami raih setelah wisuda hanyalah sebuah batu loncatan belaka untuk tahap tahap berikutnya. Untuk mencapai tahta seorang dokter, seorang S.Ked perlu menempuh 1.5 - 2 tahun berikutnya di pendidikan klinis yang membuat kami bergelar koas. Tidak berhenti disitu, kami harus kembali dihadapkan dengan UAN versi koas yang gaulnya disebut dengan UKDI/UKMPPD. Sayangnya setelah lulus dari UKMPPD, seorang fresh baked doctor tidak dapat langsung berpraktek layaknya seorang dokter profesional. Kami diharuskan untuk menghadapi sebuah dilema baru yang kami sebut dengan interenship. Apakah perjalanan ini cukup? Tentu saja tidak. Perjalanan diatas hanya segelintir usaha kami (dokter umum) sebelum pada akhirnya kami dapat masuk ke pendidikan selanjutnya SPESIALIS. Waktu tempuhnya jangan ditanya, anggap saja kami mengulangi rangkaian proses diatas dengan tanggungjawab yang jauh lebih berat.
Sudahkah mata anda terbuka? Ataukah anda masih bergulat dengan opini bahwa perjalanan panjang ini dapat berakhir dengan happy ending ala film film hollywood, dimana anda kerja santai, hidup mewah, tidak perlu bersusah susah belajar lagu. Doctor is long life learning, kami para dokteer dituntut untuk menggali dan menggali ilmu, bahkan hingga ke liang kubur. Berbagai simposium dan konfrensi harus kami hadiri agar ilmu kami senantiasa terupdate dan tidak tertinggal jaman.
Yah begitulah perjalanan panjang kami. Tulisan ini kami buat bukan untuk menakut nakuti para insan muda yang berjuang, bukan pula sebagai bentuk keluh kesah kami pada perjalanan panjang ini, tapi untuk membuat kalian melihat lebih luas perjalanan panjang yang akan kalian hadapi saat kalian telah membulatkan hati pada fakultas kedokteran. Segala bentuk persiapan baik segi fisik, mental dan materi harus dipersiapkan sebaik baiknya. Jangan sampai ada penyesalan di tengah perjuangan kalian. Akhir kata, kami menantikan insan insan hebat yang akan meneruskan mimpi mimpi kami, mengemban harapan harapn bangsa dan menjadi motor penggerak dibidang kesehatan.
Salam damai,
-hampirdokter-
Yah begitulah perjalanan panjang kami. Tulisan ini kami buat bukan untuk menakut nakuti para insan muda yang berjuang, bukan pula sebagai bentuk keluh kesah kami pada perjalanan panjang ini, tapi untuk membuat kalian melihat lebih luas perjalanan panjang yang akan kalian hadapi saat kalian telah membulatkan hati pada fakultas kedokteran. Segala bentuk persiapan baik segi fisik, mental dan materi harus dipersiapkan sebaik baiknya. Jangan sampai ada penyesalan di tengah perjuangan kalian. Akhir kata, kami menantikan insan insan hebat yang akan meneruskan mimpi mimpi kami, mengemban harapan harapn bangsa dan menjadi motor penggerak dibidang kesehatan.
Salam damai,
-hampirdokter-

Komentar
Posting Komentar